Sementara Jakarta sibuk membicarakan AI dan data center, di sebuah tambak di Maros, Sulawesi Selatan, seorang pembudidaya ikan mengambil ponselnya.

Ia tidak sedang membuka media sosial. Ia sedang mengecek kadar garam air. Datanya tercatat. Suhu air tercatat. Semuanya tersimpan sebagai basis data yang akan digunakan untuk memproyeksikan kondisi tambaknya ke depan.

Di tengah perubahan iklim yang membuat musim tidak lagi bisa diprediksi, data sederhana ini bisa menjadi penyelamat. Kisah ini jarang masuk headline. Tapi minggu ini, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria datang ke Maros untuk membuka Rural ICT Camp 2026—dan ia menyebut apa yang dilakukan warga Maros sebagai bukti bahwa konektivitas digital bisa benar-benar berdampak.

Apa yang Terjadi?

Rural ICT Camp 2026 berlangsung di Unit Instalasi Tambak Silvofishery Marannu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dari 14 hingga 18 September.

Program tahunan ini digelar oleh Common Room Networks Foundation bersama Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros. Temanya: "Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga". Yang membuat program ini menarik bukan sekadar pelatihan teknologinya. Tapi apa yang sudah dilakukan warga Maros sebelum program ini datang.

Para pembudidaya di Maros telah menggunakan teknologi digital untuk mengukur kadar garam dan suhu air tambak mereka. Data itu dicatat secara sistematis, lalu digunakan untuk membuat proyeksi menghadapi perubahan iklim.

Nezar menyebut ini sebagai langkah penting kemandirian warga. "Kita menyaksikan bagaimana warga menggunakan teknologi digital untuk mengukur kadar garam, suhu, lalu mencatatnya sebagai 'big data', dan membuat proyeksi ke depan," katanya.

Mengapa Ini Penting?

Karena ini adalah cerita tentang teknologi yang benar-benar berfungsi.

Di saat kita dikelilingi berita tentang AI, cloud, dan investasi triliunan rupiah di infrastruktur digital, kisah Maros mengingatkan pada satu hal mendasar: teknologi bukan tentang seberapa canggih, tapi tentang seberapa berguna. Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi pembudidaya ikan dan kepiting di kawasan pesisir. Kemarau panjang dapat meningkatkan salinitas air hingga level yang mematikan bagi komoditas budidaya.

Dengan data yang terukur, pembudidaya tidak lagi menebak-nebak. Mereka bisa mengambil keputusan berdasarkan pola yang terbaca dari data—kapan harus menambah air tawar, kapan harus panen lebih awal, kapan harus bersiap menghadapi kondisi ekstrem. Ini bukan teknologi tinggi. Ini sensor sederhana, internet komunitas, dan pencatatan data yang disiplin. Tapi dampaknya langsung terasa pada penghidupan warga.

Konteksnya: Internet yang Bermakna

Ada satu kalimat dari Nezar yang patut direnungkan: "Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak aplikasi yang dibuat atau berapa banyak perangkat yang dipasang. Ukurannya adalah apakah komunitas menjadi lebih berdaya, ekosistem lebih terjaga, dan penghidupan masyarakat menjadi lebih tangguh."

Kalimat ini penting karena selama ini, pembangunan infrastruktur digital sering diukur dengan metrik yang salah. Berapa tower yang dibangun. Berapa kilometer kabel yang dipasang. Berapa banyak desa yang terhubung.
Semua itu penting. Tapi tidak cukup.

Rural ICT Camp 2026 adalah upaya untuk mengubah cara pandang itu. Program ini menyasar pengembangan infrastruktur internet dan TIK di wilayah perdesaan dan terpencil, dengan fokus pada penggunaan yang berdampak, bukan sekadar ketersediaan akses.

Kegiatan ini juga melanjutkan pembelajaran dari program Community-based Innovation Lab for Climate Resilience (Co_LABS) yang dikembangkan sejak 2024—sebuah inisiatif yang menempatkan komunitas sebagai pusat inovasi, bukan sekadar penerima teknologi.

Dampaknya bagi Perusahaan Teknologi

Bagi pelaku bisnis teknologi di Indonesia, kisah Maros menawarkan tiga pelajaran:
Pertama, ada pasar yang terlupakan di luar kota-kota besar. Selama ini, solusi teknologi yang dijual di Indonesia cenderung dirancang untuk korporasi dan konsumen urban. Padahal, ada kebutuhan nyata di sektor pertanian, perikanan, dan komunitas pesisir yang belum tergarap.

Kedua, solusi yang sederhana seringkali lebih efektif daripada yang canggih. Sensor kadar garam dan suhu air bukanlah teknologi rocket science. Tapi ketika dikombinasikan dengan internet komunitas dan pencatatan data yang konsisten, ia menjadi alat yang menyelamatkan penghidupan.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor adalah kunci. Rural ICT Camp 2026 melibatkan pemerintah, lembaga riset, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Model kolaborasi seperti ini bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan teknologi yang ingin masuk ke sektor yang lebih luas.

Yang Sebaiknya Dilakukan

Untuk perusahaan teknologi dan enterprise di Indonesia:
Pertama, jangan hanya melihat kota-kota besar sebagai pasar. Sektor pertanian, perikanan, dan komunitas pesisir memiliki kebutuhan teknologi yang nyata—dan solusinya tidak harus mahal.

Kedua, bangun solusi dengan komunitas, bukan untuk komunitas. Apa yang membuat Rural ICT Camp berhasil adalah pendekatan partisipatif. Teknologi yang dirancang tanpa memahami konteks lokal akan gagal, sebagus apa pun teknologinya.

Ketiga, ukur keberhasilan dengan dampak, bukan fitur. Nezar benar. Berapa banyak perangkat yang terpasang tidak sepenting apakah penghidupan masyarakat menjadi lebih baik.


Kesimpulan


Di tengah kebisingan berita tentang AI, data center, dan investasi miliaran dolar, kisah dari Maros adalah pengingat yang menyegarkan. Teknologi paling revolusioner mungkin bukan yang dilatih dengan ribuan GPU. Tapi yang membantu seorang pembudidaya ikan mengambil keputusan lebih baik di pagi hari.

Rural ICT Camp 2026 bukan acara besar. Tidak ada drone show, tidak ada pengumuman investasi triliunan. Tapi di tambak-tambak Maros, ada sesuatu yang sedang tumbuh: kepercayaan bahwa teknologi, pada akhirnya, harus melayani manusia—bukan sebaliknya.

Dan itu adalah pelajaran yang jarang kita dengar di era yang begitu terobsesi dengan frontier teknologi.


SUMBER REFERENSI:


· RRI.co.id, "Wamenkomdigi Apresiasi Teknologi Digital Kelompok Perikanan Budidaya Sulsel", 16 September 2026
· ANTARA News, "Nezar sebut teknologi perikanan di Maros bukti konektivitas berdampak", 15 September 2026
· RRI.co.id, "Deputy Minister Highlights Digital Technology Use in Maros Fisheries", 15 September 2026
· ANTARA News, "Rural ICT Camp di Maros hadapi perubahan iklim", 12 September 2026
· Rakyatku.com, "Dampingi Pembudidaya Hadapi Cuaca Ekstrem, BRPBAP3 Kenalkan Teknologi Pemantau Cuaca Tambak Berbasis IoT", 11 September 2026


  • Write By: admin
  • Published In:
  • Created Date: 2026-09-17
  • Hits: 55
  • Comment: 0

Tags:

Leave A Comment